-- Catatan Si Allif -- RMBU FILES --
--- Episode 4 ---
“ Bosen kah anda dengan tulisan saya?? ”
“...”
“...”
Nampaknya iya.
Beralih dari pertanyaan itu mari tetap kita lanjutkan saja cerita tentang allif yang gak jelas dan kejadian-kejadian aneh yang terjadi di sekitar dirinya dan RMBU.
Kalo diepisode sebelumnya saya menerangkan bagaimana tidak sengajanya saya nemu ikhwan-ikhwan ganteng nan soleh itu. Sekarang saatnya saya akan menceritakan tentang kapan dan bagaimana saya bertemu dengan akhwat yang pasti kalah ganteng dengan ikhwan. Secara akhwat itu bukan ganteng dan ganteng itu untuk ikhwan. Jadi, mari kita sebut ikhwan lah yang kalah cantik dan soleha dibanding para akhwat RMBU.
Yoroshiku nee...
Teh elin
Saya bertemu dengan elin ketika saya berada digugus awal masuk sekolah. Waktu itu ada tugas kelompok untuk membuat suatu kreatifitas dari barang-barang bekas dan kami sekelompok. Entah siapa yang memberi ide, saya semaleman membuat alat yang akhirnya saya beri nama “portable fan”. Sejenis kipas listrik yang bisa dibawa kemana-mana dan hebatnya lagi karya kelompok kami masih kalah dengan beberapa karya dari gugus lain, seperti frame foto yang tersusun dari paddle ice cream yang sebetulnya paddle tersebut sudah tersedia di warung-warung dan bukan kategori barang bekas. Sehingga pada akhirnya, ketika saya pulang kipas itu terpaksa saya buang ke tempat sampah terdekat. “ tau begitu kan, kita bikin tempat sampah dari kresek aja ya teh, sangat berguna pastinya buat mulungin karya-karya orang yang gak dihargai. ”
Teh yasni
Saya bertemu yasni di kelas X.2. Dan tanpa di sengaja, yasni berada didepan tempat duduk saya. Entah yasni yang ikutin saya, atau saya yang ikutin yasni. Pokoknya kami berdua terpaksa harus mau selama tiga tahun berturut-turut menjadi teman satu kelas. Jadi, setidaknya saya dapat melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada yasni mulai dari kelas 10 sampai kelas 12, mungkin sebaliknya. Hal yang paling saya ingat dengan yasni adalah ketika ia memutuskan untuk tidak melakukan kontak fisik dengan pria. Saya dan ganjar dengan konyolnya menyalami yasni dan beberapa siswi lainnya dikelas X.2 seakan-akan besok kiamat dan kita tidak bisa saling berpegangan tangan lagi. Yasni fight dengan keputusannya dan saya masih sama seperti hari-hari sebelumnya, hingga di awal kelas 11 saya bergabung dengan RMBU kemudian saya mengikuti keputusan yang yasni, akhwat dan ikhwan lainnya lakukan untuk tidak kontak fisik ke lawan jenis. ( terkecuali ke Guru kalo saya)
Teh fitri
Saya bertemu dengan fitri secara tidak sadar ketika upacara bendera yang diprakarsai oleh para murid-murid baru. Memang pada saat itu kita tidak saling kenal dan berkenalan. Saya baru sadar itu ketika saya masuk kelas 11 dan membuka file MOPD kala itu. Ada foto wanita berkerudung yang menggunakan busana SMP memegang map batik properti upacara bendera, dan ternyata fitri namanya. Mungkin sangkin sibuknya, dia gak ada waktu buat berkenalan dengan saya waktu itu. (emang gak penting juga sih). Dan yang saya temukan dikelas 11 agak berbeda dengan pemikiran awal saya yang beranggapan bahwa fitri seorang yang jutek, dan ternyata fitri seorang yang gak kalah ngbanyolnya dibanding para artis XI ipa 1 lainnya. Entah itu emang sengaja atau emang begitu orangnya, tapi selalu seru aja kalo ngobrol sama fitri. *Dan untungnya saya masih bisa nandingin setiap banyolan fitri.
Teh Mia
Atau lebih jelasnya kita panggil Mia Kurniasari (b). Karena pada saat itu dikelas kami terdapat nama yang serupa namun berbeda rupa. Itu lah mia. Seorang akhwat yang energik, murah senyum dan pintar pastinya. Tak jarang dia selalu mengajarkan saya dan menjelaskan beberapa tugas-tugas sekolah yang saya masih kurang pahami. Momen yang saya ingat dengannya yaitu ketika saya di introgasi olehnya di mesjid Ar-rahman. “ Cukup kita aja teh yang tau, terima kasih :) ”
Teh tiara
Saya kenal dengan tiara ketika kelas 10, gak secara langsung sih. Karena tiara juga teman dari ganjar dan iqbal jadi kadang-kadang saya tanya-tanya tentangnya ke mereka berdua. Singkatnya dari perkenalan yang gak jelas itu, akhirnya kami berdua dipertemukan di kelas yang sama. Sungguh aneh tapi nyata, selain kita satu kelas kita juga menjabat sebagai sekertaris RMBU masa itu. Begitu banyak saya merepotkan dirinya dengan berbagai tugas-tugas RMBU yang seharusnya saya kerjakan tapi ujung-ujungnya saya serahkan ke tiara lagi untuk mengerjakan.
Pernah suatu waktu tiara mengajak berbisnis dengan saya, sangat menguntungkan sekali kalo memang bener-bener serius dijalanin. Janjianlah kita disuatu tempat di daerah cisaat, karena waktu ketemuannya jam setengah 9 dan seminar nya dimulai jam 10 pagi, maka dari itu sejak pagi-pagi buta saya udah siap-siap terus berangkat dan nyampe di lokasi sekitar jam 8 kurang. Taukah anda? tiara tetap datang jam 10. *hrrgg!! Bukan masalah bagi saya jika harus menunggu tiara selama dua jam dibawah pohon beringin yang untungnya cukup rindang. Tapi masalah bagi saya, yaitu sudah mah menunggu tiara dua jam lebih, kemudian saya harus menunggu acara seminar yang ternyata baru akan dimulai setelah sholat dzuhur. Jadi total saya menunggu dengan sia-sia adalah 5jam-an. “Gimana mau untung, kalo awal-awal aja saya udah rugi di waktu.” Saya sedikit agak lega ketika tiara bisa dengan ikhlas menerima tolakan saya untuk bergabung.
Teh tresna
Saya sempat kaget ketika masuk kuliah, ada dosen mirip baget sama tresna. Penampilannya, tutur bicaranya bahkan sampai becandaannya pun mirip-mirip sama tresna. Saya pikir awalnya dosen tersebut kakanya tresna, tapi ternyata sedikit pun gak ada hubungannya. Oia, sebagai informasi dosen yang mirip tresna itu bernama Tia Rahmiati berasal dari SMANSA dan aktif di RMBU juga pada masanya. Mari kita kesampingkan dahulu itu dan kembali ke tresna yang beneran tresna. Saya terkadang suka geli melihat tresna yang sedang beraksi. Apakah itu dia lagi ngomong, lagi bercanda bahkan kalo lagi diem pun saya perhatiin. Pokoknya lucu aja tingkah lakunya, apalagi kalo lagi riweuh (rame) dikelas bukannya makin reda tapi malah makin riweuh seisi kelas olehnya. Terbukti ketika kemaren kita reuni di situ gunung. *yang setuju angkat tangan?! Sayaaaa...
Teh yuri
Yuri merupakan salah satu siswi di kelas yang cukup jarang berinteraksi dengan saya. Selain memang saya gak sering-sering banget ada perlu dengan dia. Nampaknya dia juga tidak terlalu suka di ganggu orang lain dengan kesibukannya dikala itu. Bahkan kalo senyum pun mungkin hanya seperlunya aja. Makanya, dari pada saya dilempar buku paket yang siap melayang di atas meja atau mungkin mejanya juga yang ikut dilempar ke saya, lebih baik saya seperlunya aja negor dia.
Contohnya aja baru-baru kemaren ini, saya kan mempromosikan tulisan perdana saya, dan dikomen “dasar!”. Hati kecil saya berbicara “ Apakah saya begitu mengganggu dirimu teh??”. Tapi setelah episode 3 kemarin, saya sedikit agak lega karena nampaknya tulisan saya tidak terlalu mengganggu dirinya dan cukup mencairkan suasana antara kita. Yuri termasuk orang yang cukup kritis, memang dia jarang berbicara tapi sekalinya dia bersuara, saya sering mendapatkan solusi yang tepat darinya.
Teh seny
Saya bertemu seny dikelas 11, hampir sama kisahnya dengan yuri. Saya jarang berinteraksi dengan seny baik di dalam ataupun di luar kelas. Yang jelas seny yang saya kenal merupakan siswi yang murah senyum, bersemangat dan tidak pantang menyerah. Kalau pun saya ngobrol dengannya, saya tidak terlalu khawatir dengan lemparan buku paket atau pun lemparan meja. *smile... ^_^
Teh sani
Atau kita panggil Bu Sani. Tidak diduga-duga sani menggagalkan prediksi saya. Padahal yang saya kira bakal menikah duluan itu mahmud. Sani orangnya ramah dan memiliki rasa wiraswata yang sangat tinggi di banding yang lainnya. Terbukti dengan bagaimana dia melihat ladang bisnis dikelas. Disetiap harinya dia membawa berbagai macam makanan untuk di jual. Murid dikelas termasuk juga saya, agak ribet kalo mau ngemil doang mesti ke kantin yang jaraknya lumayan jauh dari kelas ( mungkin bisnis ojek bisa laku juga, ada yang berminat?? ), makanya tak jarang barang bawaan sani sering habis di beli oleh anak-anak ipa1 sendiri.
Teh winni
Nama samarannya CeuCeu. Entah kenapa begitu, saya tidak pernah mempertanyakannya. Winni termasuk orang yang cerewet dikelas. Kalo lagi ada pelajaran bahasa indonesia tidak jarang saya agak merapat dengannya. Tadinya sih mau mencari inspirasi, tapi karena jawabannya harus sama, ya mau gak mau harus di tulis yang sama dengan winni. Momen yang paling saya kenang itu, ketika winni memainkan peran kuntilanak. Sungguh. Sungguh. Seperti kuntilanak dikau win.
Teh ratika
Nama samarannya DeDe. Ratika gak kalah cerewetnya dengan winni. Dan lagi-lagi tak jarang pula kalo lagi ada tugas bahasa indonesia saya juga merapat ke tempat ratika, untuk sekedar mencari inspirasi. *hehehe...gubbraakk!!!
Teh yoesna
Nama yang cukup aneh yang pernah saya temui. Ketika dipanggil yusna, dia selalu protes karena dia pengennya dipanggil yoesna. Saya bertemu dengannya ketika saya bertabrakan dengannya secara tidak sengaja dalam perjalanan menuju kelas. Suatu pertemuan yang sangat tidak wajar! Beberapa waktu sering kami habiskan untuk ngobrol berdua tentang pelajaran sekolah dan sisanya saling cerita-cerita tentang hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk di obrolin tapi tetap saja jadi bahan obrolan kami sehingga waktu menjadi tidak terasa sudah beranjak cukup lama. Sebetulnya ada sesuatu yang saya ingin sampaikan tentangnya disini, tapi lebih baik saya langsung sampaikan secara langsung saja. Jadi pokoknya sukses selalu buat yoesna.
.... ...
.... ...
JODOH = Diri Kita
Percaya gak percaya, tapi di pikir-pikir ada benarnya juga kalimat murrabi saya itu. Ketika para ikhwan selesai liqo, biasanya kami berkumpul diruang tamu basekamp kita di cisuda. Karena pada saat itu sedang marak-maraknya kasus VMJ (Virus Merah Jambu). Menjadikan VMJ sebagai topik hangat yang sering kami perbincangkan waktu itu.
Kalimat itu simpel “ jodoh kita tergantung diri kita ”. Tapi makna dari kalimat itu lumayan dalem kalo di telaah. Singkatnya, ketika kita melakukan banyak perbuatan baik maka jodoh kita insya allah juga akan baik. Dan jika kita seringnya melakukan perbuatan buruk, jangan salahkan siapa pun kalau jodoh anda juga suka dengan perbuatan buruk itu. Memang sih jodoh itu rahasia ilahi dan kalimat itu menurut saya ada benarnya juga. Walaupun sedikit agak bertentangan dengan sinetron tentang roker berkelakuan sangar yang akhirnya bisa menikahi putri soleha dari kiai yang punya pesantren.
Setelah mendapatkan kalimat yang agak bijak itu saya pulang ke rumah, kemudian berfikir. Tentang perlu tidaknya pacaran dimasa itu. Hasilnya :
Nilai positif dari pacaran = tidak ada.
Nilai negatif dari pacaran = dosa yang pasti makin bertambah, yang ada malah uang jajan semakin hari semakin menipis, belom lagi nilai-nilai pelajaran yang bakal menurun kalo-kalo lagi ada masalah sama si pacar dsb.
Akhirnya pada malam itu juga saya putuskan untuk tidak berpacaran dulu dan bertekad untuk fokus memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Praktek Contek Menyontek!
Widdihh...ini ni yang paling merubah saya secara signifikan sampai saat ini. Entah apa jadinya kalo saya masih mengandalkan orang lain di saat saya kesusahan dikursi panas ujian. Pemikiran saya terbuka lebar, ketika saya sedang duduk disekre RMBU dengan beberapa senior ikhwan yang sedang sibuk belajar bareng. Terjadilah percakapan antara saya dan beberapa senior kala itu :
“ kang, ko anak RMBU pada gak suka nyontek sih?” Tanya saya polos yang sebenernya saya sadar kalo anak TK juga tau, kalo : nyontek itu dilarang!
“ nyontek itu kan dosa kang.” Jawabnya
“ Lah, gimana ceritanya bisa dosa? “ Saya pura-pura kaget
“ bohong itu apa?? “ Seperti uya kuya yang lagi hipnotis korbannya
“ bohong itu dosa.” Saya mulai terhipnotis
“ nah, itu tau. kalo antum nyontek berarti antum telah membohongi guru antum dengan jawaban dikertas ujian antum, antum juga membohongi teman-teman antum yang benar-benar berusaha mengerjakan soal ujian itu sendiri dan lebih-lebih antum membohongi orang tua antum karena ternyata nilai yang antum dapet itu sesungguhnya palsu.” Sambil tersenyum dia mulai sibuk lagi dengan pekerjaannya.
Dan saya hanya bisa ngangguk-ngangguk nerima penjelasan dari akang senior tersebut yang gak lamaan dari itu saya go home.
Sesampainya saya di rumah, saya melihat kertas hasil test IQ yang tertuliskan IQ anda = 118. Saya memang gak pinter, tapi juga gak bego-bego amat. Paling gak saya tau, kalo 1 ditambah 1 hasilnya itu 2 dan jika 2 dikurang 1 hasilnya adalah 1. Alih – alih mau memperbaiki diri, mau gak mau proses ini harus saya terima. Menjadi siswa yang benar- benar berjalan lurus itu sudah pasti dan terbukti oleh saya gak seindah drama jepang korea yang pemerannya selalu pada jenius dan cool.
Alhasil, beberapa hasil ujian saya sering kali jeblok dan harus di remedial, dan gak jarang guru-guru lebih memilih memberikan nilai pas untuk saya biar saya gak ganggu-ganggu mereka lagi yang harus ribet ngebuat soal remedial buat saya. Mungkin fakta bahwa nilai-nilai saya memang kecil di bandingkan yang lain, tapi sampai saat ini. Saya bangga dengan itu!
Cukup sekian cerita saya di episode kali ini, terima kasih kepada nama – nama yang dengan sengaja terdaftar dalam episode kali ini. Walaupun gak di minta persetujuannya, semoga kalian gak marah sama penulisnya ya. * :p
-- Catatan Si Allif -- RMBU FILES --
--- Episode 4 ---
-SELESAI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar