--- welcome to my blog ---

--- welcome to my blog ---

Rabu, 28 Maret 2012

Mengelola Rasa Cinta “Ilegal” By : Sardini Ramadhan

dakwatuna.com – Sebenarnya tak salah kita memiliki rasa cinta. Karena kita manusia yang dibekali dengan rasa ini. Mungkin ada yang bertanya, bisa gak ya aktivis dakwah jatuh cinta? Hah… pertanyaan yang sangat mendiskreditkan aktivis dakwah. Bukankah mereka manusia biasa, sama seperti manusia lainnya. Bukankah mereka juga manusia normal yang hanya berusaha jalani kehidupan dengan aturan-aturan syariatNya. Sekali lagi mereka hanya manusia biasa yang juga memiliki rasa cinta.

Namun rasa cinta seorang aktivitas dakwah hendaknya hanya dimekarkan semekar-mekarnya saat telah dibingkai dengan ikatan suci (pernikahan). Karena nikah dalam Islam adalah ibadah maka wajar dalam perjalanannya pasti melewati rintangan godaan syaitan laknatullah. Mereka tak ikhlas jika manusia menikahnya mulus-mulus saja tanpa disertai kemaksiatan. Maka mereka mekarkan rasa cinta yang menggelayuti hati manusia dengan fatamorgana keindahan. Mereka goda dua insan yang memiliki rasa itu untuk menikmatinya dalam kesendirian. Sungguh wajar akhirnya banyak kita temui orang-orang yang sebelum memasuki jenjang pernikahan melewatinya dengan pacaran yang berlangsung lama bahkan ada yang kebablasan berzina lantaran ketidakmampuan menahan gejolak nafsu syahwat yang semakin membara. Tidak sedikit kita dengar pernikahan mereka yang dibumbui dengan kemaksiatan pada awal perjalanannya berakhir tragis di tengah jalan atau bahkan saat memulai perjalanan itu dalam bingkai pernikahan.

Apa yang menyebabkan ini semua? Jawaban sederhananya adalah, saat berpacaran setiap pasangan hanya menampilkan keindahan-keindahan dan berusaha sekuat-kuatnya menutupi aib diri yang dimiliki. Mereka hanya ingin memberikan yang terbaik pada pasangannya. Maka wajar ketika awal membangun biduk rumah tangga keindahan-keindahan dulu yang dirasakan seakan-akan berputar 180 derajat. Mereka yang tidak siap menerima kenyataan ini akan berontak hatinya. Karena sudah tak mampu menerima kenyataan yang ada terjadilah sesuatu yang halal namun sangat dibenci Allah itu ”perceraian”. Dan inilah akhir tragis yang sangat menyesakkan kehidupan dua Bani Adam yang membangun biduk rumah tangga.

Sungguh ajaran Islam sangat indah, syariat nikah dihadirkan untuk memuliakan manusia. Ketika rasa “illegal” itu tiba maka Islam telah menyiapkan solusinya melalui pernikahan. Ketika belum mampu untuk menikah maka perbanyaklah puasa sunnah dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jika hal ini dilakukan peluang melakukan maksiat akan terkikis habis dan syaitan akan pergi dengan perasaan putus asa. Peluangnya menggoda sudah tak ada , walaupun kita harus yakin syaitan planner kejahatan terbaik. Mereka pasti punya rencana lain yang akan menjerumuskan manusia kepada kubangan kemaksiatan dan lumpur-lumpur dosa yang menyesakkan jiwa.

Lalu bagaimana seharusnya aktivis dakwah menyikapi kehadiran rasa “illegal” dalam hatinya kepada lawan jenis. Satu hal yang mesti dipahami, tidak ada yang salah dengan rasa illegal itu. Rasa itu adalah fitrah yang Allah hadirkan dalam setiap hati manusia. Mencintai dan dicintai adalah kata yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian menjalani kehidupan. Ketika rasa ”illegal” itu hadir maka aktivis dakwah wajib mengelolanya dengan benar. Jangan sampai rasa itu menjerumuskannya dalam jurang kemaksiatan. Jangan sampai rasa itu menjauhkannya dari kecintaan hakiki kepada Allah. Tetap tancapkan tiang tertinggi cinta kita kepada Allah SWT. Ingat keindahan yang kau rasakan pada orang yang telah menyebabkan kau memiliki rasa “illegal” itu sebelum dibingkai dengan pernikahan adalah keindahan semu yang boleh jadi dihiasi oleh nafsu dan polesan godaan syetan. Yakinlah keindahan hakiki dalam mengelola rasa “illegal” adalah dengan pernikahan. Maka ketika rasa itu tiba persiapkan dirimu sebaik-baiknya. Tingkatkan kualitas amal, persiapkan bekal financial, perbaharui mental dan tanamkan keyakinan sedalam-dalamnya dalam relung hatimu, bahwa Allah telah menyediakan jodoh terbaik untukmu. Berharaplah hanya kepada Allah agar orang yang telah menumbuhkan bijih cinta di hatimu itu adalah manusia pilihan yang memang disiapkan Allah untukmu. Sabarlah dalam penantian, jadikan Allah teman setia dalam penantian. Kelak ketika tiba saatnya harus bersama maka engkau akan mendapati indahnya surga dunia dalam keseharianmu sampai Allah memisahkan melalui takdirnya.

Surga dunia hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang telah sukses mengelola rasa cintanya. Orang-orang yang telah lulus dalam masa penantian. Dan orang-orang yang menempatkan rasa cinta kepada Allah jauh melebihi rasa cinta kepada siapapun. Cinta kepada Allah lah yang mendatangkan rasa cinta hakiki pada pasangan yang kita dambakan surga itu bisa dinikmati bersamanya. Jika engkau menjaga Allah maka Allah akan menjagamu dan menjaga jodoh yang Allah siapkan untukmu.

Senin, 26 Maret 2012

Yang Terpenting itu Hati By : agathapelangi

dakwatuna.com - Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah mengatakan:
“Barangsiapa memperhatikan syari’at di dalam sumbernya, maka ia akan tahu tentang terkaitnya amalan badan dengan amalan hati. Amalan badan tidak ada manfaatnya tanpa ada amalan hati. Amalan hati lebih wajib bagi setiap hamba daripada amalan badan. Bukankah perbedaan orang mukmin dan orang munafik tergantung pada hatinya, oleh karenanya ibadah hati lebih agung daripada ibadah badan, bahkan lebih banyak, lebih kontinyu, dan lebih wajib di setiap waktu.” (Badaa-i’ul Fawaa-id hal. 514)

Kepala boleh sama hitam, pirang, putih atau berkerudung, tapi hati siapa yang tahu? Lisan boleh jadi berkata bijak tapi siapa yang tahu hati berkeinginan bejat? Bisa jadi beraktivitas dengan jam terbang tinggi karena ingin dikenal matang? Berorganisasi ke sana-sini supaya dianggap berkontribusi nyata? Atau sengaja berdiam diri agar populer dengan gelar kehati-hatian bertindak? Tak ada yang tahu isi hati. Bahkan tiap-tiap orang pun tak memiliki otoritas terhadap hatinya sendiri.

Tak ada jaminan bahwa keistiqamahan itu bisa dilakukan hingga akhir, tak ada garansi nikmat hidayah Allah yang telah diberikan akan terus tersimpan di dada. Apapun mungkin yang awalnya aktif mengaji hingga di pertengahan menjadi lupa diri hingga akhirnya tak ingat mati. Masih ada juga cela untuk berubah yang dahulunya mafia menjadi seorang ulama. Contoh nyata dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait peristiwa ini adalah Ubaidillah bin Jahsy, kader generasi awal yang menyempal dan Umar bin Khathab, preman jahiliyah yang menjadi pemimpin kejayaan Islam.

Adanya hijab antara diri dan hati inilah menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali berdoa:

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa doa tersebut yang sering beliau baca.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3/257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy (kuat) sesuai syarat Muslim)

Lantas masihkah kita meremehkan perkara hati dengan dalih banyaknya amal shalih akhirnya akan membentuk kebaikan hati? Padahal telah nyata diterima tidaknya sebuah amal dari kondisi hatinya:

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Memang bukan perkara suci tidaknya hati tapi tentang bagaimana mengikutsertakan Allah dalam tiap situasi. Bila hati yang peka dengan keberadaan Rabbnya, ia akan senantiasa sadar adanya CCTV para malaikat siap untuk mendokumentasikan dan mefloorkan di Yaumil Mizan nanti. Dengan demikian sudah selayaknya anak Adam as menjaga hati dengan terjaganya pandangan, menjaga hati dengan terjaganya pendengaran, menjaga hati dengan terjaganya lisan dan menjaga hati dengan terjaganya perbuatan tangan serta langkah kaki.

Wallahu a’lam bi showab.

Surat Seorang Sahabat By : Oktarizal Rais

dakwatuna.com - Bismillaahirrohmaanirrohiim…
Sahabat fillah, percayalah…

Kebahagiaan seorang sahabat sejati bukan terletak pada ucapan terima kasih kita. Bukan juga terletak pada hadiah yang kita berikan padanya.

Kebahagiaan seorang sahabat sejati terletak pada keberhasilan kita dalam mencapai potensi terbaik!
Karena kita selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh atas pesan-pesan yang ia sampaikan. Dan menyikapinya dengan benar dalam setiap langkah hidup kita.

Sahabat terbaik adalah yang datang dengan nasihat-nasihat kehidupan yang dengannya engkau mengerti arti hidup dan kehidupan ini.

Ia tak mengharapkan sesuatu darimu selain engkau menjadi orang yang baik dan mampu memberi kebaikan kepada orang lain.

Ia hanya ingin melihat senyum dari wajahmu saat engkau menghadap Rabbmu…

Ia tak ingin ada kegelisahan dan kesedihan karena dunia tersirat di wajahmu.

Tapi, ia mengharapkan kesedihan dan kegelisahanmu dikarenakan ketakutanmu kepada ALLAH!

Sahabatmu bukanlah orang yang takut jika engkau terasing pada kehidupan dunia.

Namun, ia hanya takut, jika pada hari kebangkitan nanti, engkau termasuk orang-orang yang terusir dari rahmatNya!

Ia tak takut jika harus berpisah denganmu pada kehidupan dunia.

Namun, yang ia takutkan adalah ketika ia harus dipisahkan denganmu pada kehidupan setelah kehidupan yang fana ini… yaitu kehidupan akhirat, tanpa bias menolongmu sedikit pun.

Karena ia pun tak tahu dimana akhir dari perjalanan hidupnya, apakah di surga yang diliputi dengan segala kesenangan? Ataukah di neraka yang tak mengenal cinta, kasih sayang, dan persahabatan???

Sahabat fillah…

Selamat berjuang mengarungi samudra kehidupan dunia.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita.

Semoga selalu ada cinta di hati kita.

Cinta karena Rabbuna.

Sehingga timbul kejujuran dalam mencintai Allah dan hamba-hambaNya.

Wallahua’lam.

Masalah Itu Manis By :Herdiansyah

dakwatuna.com - “Jangan katakan kepada Allah kalau kita punya masalah, tapi katakan kepada masalah kalau kita punya Allah”

Kutipan di atas saya copas dari status Facebook salah satu teman saya. Setelah membaca status itu saya langsung me-like-Nya padahal baru beberapa detik muncul di laman Facebook. Karena menurut saya kata-kata di atas sangat luar biasa. Iya, di tengah banyak dinding-dinding Facebook digunakan sebagai luapan keluh kesah, kekesalan, dsb. Yang seolah-olah menunjukkan ketidakikhlasan kita dalam menerima segala takdir ketentuan Allah Swt, teman saya ini meng-update status dengan nilai optimis.

Status teman saya di atas  sangat luar biasa menurut saya, dan status seperti itulah yang semestinya kita publish ke depan facebooker mania. Karena dengan membaca status yang luar biasa itu, teman kita yang membacanya mungkin akan tercerahkan walau boleh jadi sebelum membaca status kita itu dia sedang kegundahan. Kemudian biasanya status yang luar biasa di laman Facebook  akan  memunculkan komen-komen luar biasa lainya. Kalau begitu bukankah pahala akan mengalir kepada si peng-update status itu? Karena dia telah mencerahkan yang sedang gundah,memberi solusi yang sedang dirundung masalah.Jika ini yang terjadi, maka satu sisi fositif  laman “muka buku” ini telah dirasakan, dan kita telah menanam satu kebajikan.

Jika sebalik-Nya yang kita lakukan, yakni meng-update status-status yang berisi keluhan, emosi, cacian dan lain sebagainya. Apakah itu tidak menimbulkan satu dosa bagi kita sendiri. Karena kita sangat dilarang berkeluh kesah akan masalah atau takdir yang kita jalani. Kemudian jika ada teman yang memberikan jempol manis-nya akan status yang berisi keluh kesah itu, apakah dia tidak dikatakan melakukan sebuah keburukan karena seolah teman kita itu merasa setuju dengan apa yang kita update(keluh kesah kita).Jika itu yang terjadi berarti kita telah menanam satu keburukan bagi diri sendiri bahkan orang lain.

Jujur saya sangat tidak suka ketika membaca status-status teman saya yang berisi keluh kesah, sumpah serapah, atau cacian atas apa yang sedang mereka rasakan saat meng-update status-status mereka tersebut. Apalagi kalau saya tau mereka adalah teman-teman saya yang sama-sama telah mengenyam pendidikan pesantren yang diajarkan bagaimana sebenarnya kita dalam menghadapi sebuah masalah. Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah serta introspeksi diri. Mungkin jadi masalah itu datang sebagai teguran darinya atas apa yang telah kita lakukan sebelum-Nya atau masalah itu datang sebagai ujian untuk men-tes keimanan kita.

Ketika kita ditimpa sebuah permasalahan, berarti Allah mau kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini. Ketika kita ditimpa musibah, berarti Allah ingin agar kita mendekat kepadanya. Ketika kita ditimpa kesusahan, berarti Allah telah menyediakan untuk kita kemudahan. Karena sesungguhnya dibalik permasalahan ada proses pendewasaan, dibalik musibah ada hikmah, dibalik kesusahan ada kemudahan.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. al-Insyiroh: 5-6)

Ketika permasalahan datang menghampiri, jangan mengeluh di hadapan sang pencipta, jangan memberontak akan keputusannya apalagi mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun, mintalah agar kita diberi kesabaran serta ketegaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita, dan selalu mengharap dia memberikan ganjaran pahala untuk kita.

Tanpa malam purnama takkan indah. Tanpa lapar nikmat makanan takkan terasa. Tanpa dahaga sejuknya dingin air takkan memberi banyak makna. Begitu juga kemenangan atau kemudahan takkan banyak memberi arti tanpa didahului rintangan masalah kesusahan. Setelah mendung terbitlah cerah.
Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnah-Nya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa. Jika keluhan yang kita bina sengsara masalah akan selalu bertambah.

Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci atau dimaki. Masalah adalah mediator dalam proses pendewasaan. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa. Tanpa masalah kita takkan menjadi orang yang luar biasa.”Jalan yang lurus dan mulus takkan pernah menghasilkan pengemudi yang hebat. Laut yang tenang takkan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh. Langit yang cerah takkan pernah menghasilkan pilot yang handal.”

Di saat kita mencari solusi dalam suatu masalah, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. maka, berbahagialah mereka yang memiliki masalah dan mampu mengatasi masalah tersebut dengan brilian, yaitu dengan tetap selalu bersandar akan keputusan sang eksekutor yang maha adil setelah tawakal dilakukan. Mari bersama taklukkan masalah…!

Pilihan Bagi Orang-Orang Terpilih By : Deddy Sussantho

dakwatuna.com – Tidak ada yang gratis di dunia ini. Karena selalu ada harga yang harus kita bayar manakala hendak mewujudkan setiap keinginan, sehingga sudah sepantasnya sebuah kemenangan dibayar dengan perjuangan. Sudah seharusnya keberhasilan ditebus dengan pengorbanan. Dan sudah semestinya kesuksesan ditempuh dengan keteguhan.

Betapa tidak, selalu akan ada rintangan berat manakala kita menjalaninya. Namun itu semua sebenarnya mengukur sejauh mana kesungguhan kita dalam mewujudkan keinginan tersebut. Mundur atau tetap maju adalah pilihan yang harus kita tempuh demi menuju mimpi-mimpi itu.

Begitu pula dengan dakwah ini. Allah telah memberikan pilihan kepada kita, apakah ikut menjadi pelaku sejarah kemenangan, atau duduk terdiam menanti kematian. Hingga akhirnya Allah pun memilih mereka, yang sebelumnya telah memutuskan untuk tetap menjadi orang-orang yang terpilih.

Sama halnya seperti seorang guru yang menyajikan sebuah soal di papan tulis. Lalu kepada para muridnya, ia menanyakan siapa saja di antara mereka yang dapat menjawab soal itu. Kemudian pada akhirnya, guru tersebut akan menunjuk mereka yang mengacungkan tangan, bukan mereka yang diam. Guru tersebut memilih mereka karena acungan tangan mereka adalah bukti bahwa mereka siap untuk dipilih.

Mereka terpilih bukan karena dipilih. Tetapi mereka terpilih karena mereka memilih. Memilih dirinya agar selalu terpilih. Karena dakwah adalah pilihan bagi orang-orang terpilih, sehingga hanya mereka yang teguh serta kuatlah yang dapat bertahan hingga titik akhir perjuangan. Tidak ada tempat bagi orang-orang lemah, penakut, apalagi peragu.

Bagaimanapun, Surga itu tidaklah murah. Kenikmatan besar itu baru akan kita raih setelah membayar dengan harga yang pantas. Maka bukan lagi menjadi masalah jika nantinya kita menemukan kekurangan pada organisasi dakwah, rekan yang kurang setia, atau pun hambatan eksternal lainnya. Semua menjadi kurang penting manakala kita telah yakin kepada Allah. Jika mereka memilih untuk lemah dan tersisih, maka kita tetap memilih kuat dan bertahan. Menjadi tangguh bukan hanya tentang bisa atau tidak, melainkan mau atau tidak.

Betapa indah apa yang disampaikan Muhammad Nursani pada bukunya, Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga, “Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya remeh. Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah.”

Sekali lagi, ini soal pilihan. Bukankah yang pilihan itu memang sedikit? Bukankah yang juara itu memang segelintir orang saja? Lantas, buat apa kita berlemah dan bersedih? Banggalah karena telah menjadi yang sedikit itu!

Jangan Takut Akan Ujian, tapi Bersyukurlah By : Hadi susanto

dakwatuna.com – Ketika kita sadar bahwa setiap orang akan mendapatkan ujian sesuai dengan kemampuannya. Kadang rasa yang hadir adalah ketakutan untuk berprestasi dan memiliki kemampuan yang lebih. Karena stereotype dalam dirinya menyadari bahwa dengan menjadi semakin hebat maka akan semakin tinggi ujian yang harus dihadapi, semakin besar pula tantangan yang menerpa. Dampaknya berbagai harapan pupus seiring dengan ketakutan menghadapi ujian.

Sungguh demi jiwa-jiwa yang tak pernah lelah menggapai sesuatu. Persepsi di atas adalah suatu kewajaran. Mengingat kita dibekali dua unsur fitrah yaitu adanya pengharapan dan adanya rasa takut atas sesuatu. Sesungguhnya yang menjadi persoalan adalah ketika kita salah dalam menyikapi potensi tersebut. Rasa takut yang berlebihan bisa menjadi jebakan setan yang sangat nyata. Halus seolah mulus, terbesit dalam kesempitan jiwa yang haus akan cahaya. Dahaganya seolah terobati dengan kepasrahan berada di zona nyaman. Padahal itu semu dan memabukkan, karena dengan tegas sang Kekasih menyampaikan bahwa

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.” (HR. Dailami).

Artinya, setiap pribadi di antara kita harus menjadi orang yang baru secara positif setiap hari. Semangat baru, terobosan baru, dan maha karya baru.

Wahai para penggerak roda peradaban, menyikapi ujian dan tantangan yang muncul seharusnya kita pandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas personal dan masyarakat. Menjadi suatu peluang besar untuk akselerasi potensi, skill, dan kemampuan.  Pengobat jiwa yang sakit dan pengasah rohani yang mulai berkarat oleh virus-virus duniawi.

Betul memang harus disadari, akan ada dua akibat yang pasti hadir setelah menempuh ujian. Pertama adalah keberhasilan dalam melalui ujian dan yang kedua adalah kegagalan melalui ujian. Jika kita berhasil maka melahirkan kepuasan tersendiri yang merangsang kita untuk terus dan terus bersemangat meraih keberhasilan yang lain. Motivasi berprestasi dan jiwa optimis akan tertancap erat dalam diri kita dengan sendirinya.

Bilamana gagal, kita mungkin akan jatuh sesaat, tapi bukan untuk mengeluh, pilu, putus asa, dan merana. Kegagalan hanyalah salah satu obat agar kita bertransformasi menjadi pribadi unggul dan tangguh. Sadari dan yakini bahwa dengan kegagalan justru wujud kasih sayang Sang Penguji begitu nyata. Begitu cintanya Dia pada kita sehingga tak rela ketika kita terpuruk, hanya menjadi orang biasa-biasa, tanpa peningkatan kualitas yang berarti. Tanamkan dalam raga, benak, dan hati kita bahwa ujian hanya datang pada mereka yang pantas, kepada mereka yang memiliki kualitas luar biasa untuk menyelesaikan ujian dengan sukses. Setiap kegagalan adalah pintu awal kesuksesan. Mereka yang pernah gagal akan jauh menikmati kesuksesan dibandingkan mereka yang belum pernah gagal. Kegagalan akan tetap menjadi kegagalan ketika kita salah bersikap.

Mari buka benak dan hati kita, luruskan niat ikhlas hanya pada-Nya. Ketika hidup hanya satu kali namun menyimpan berjuta rangkaian ujian dan pilihan. Sadari bahwa semua pilihan sikap pasti ada resiko, semua ujian pasti ada kesempatan berprestasi. Maka berpikirlah dengan jernih dan ikhlas sebelum memilih agar mampu memperoleh pilihan yang terbaik sehingga dimudahkan dalam menempuh ujian. Pilihan yang paling menguntungkan dan manfaat di dunia dan akhirat. Pilihan yang kelak menyelamatkan dan memperingan pertanggung­jawaban. Jadikan do’a dan ibadah sebagai landasan dalam memilih. Ikhtiar dan tawakal sebagai pelumas menghadapi ujian. Syahadah sebagai komitmen dan processor dalam mengarungi kehidupan. Ingat, jangan takut menghadapi ujian, karena ujian itu indah dan bersyukurlah atas ujian yang hadir.

Wallahu’alam.

Ketika Hati Pernah Terbagi By : Deddy Sussantho

dakwatuna.com – Jika hati itu ibarat papan kayu, maka pasangan hidup adalah pakunya. Sedang lubang yang tertinggal di papan tatkala paku dicabut adalah kenangan. Meski paku tak lagi bersarang, namun tubuh papan telah berubah. Tubuhnya kini tak lagi mulus lantaran lubang-lubang yang bersemayam. Banyaknya lubang tentu saja tergantung dari banyaknya paku yang sempat tertanam. Dan besar kecilnya lubang tergantung pula dari bagaimana paku mengoyak papan kayu.
Harus diakui, siapa pun orang di sekitar kita pasti memiliki tempat tersendiri di hati. Berdasarkan perbedaan porsi, muncullah klasifikasi status sosial-pribadi: kenalan, teman, sahabat, saudara, keluarga, atau bahkan kekasih. Klasifikasi tersebut memiliki satu pondasi: cinta.
Kualitas cinta akan semakin sempurna apabila memiliki porsi yang total. Sepenuh hati. Suci. Cinta seperti ini tentu saja didasarkan bukan semata-mata cinta karena makhluk, melainkan cinta karena Allah SWT.[1] Cinta seperti inilah yang patut kita realisasikan dalam kehidupan, termasuk pernikahan.

Jangan Hanya ‘Sisa’
Bukankah rumah yang kokoh itu tidak dibangun dari kayu yang rapuh? Pun begitu dengan pernikahan. Dibutuhkan hati yang utuh untuk menciptakan pernikahan yang kokoh.
Tapi justru dewasa ini, kita disuguhkan dengan fenomena permainan hati (pacaran) yang kian semarak. Di mana sebelum menikah, hati dibuka lebar-lebar layaknya hotel untuk disinggahi banyak orang secara ‘temporer’, namun memberi bekas secara ‘permanen’. Bagaimana tidak, pernikahan dengan kondisi hati seperti ini akan melahirkan banyak perbandingan lantaran kenangan-kenangan dengan ‘si dia’, ‘si dia’, atau ‘si mereka’ yang terus saja membayang di setiap jengkal kehidupan. Manakala suami/istri kita menyuapi bubur misalnya, terlintas begitu saja bayangan ‘si dia’ yang dulu juga pernah menyuapi kita bubur. Ketika melintas di kerumunan, lalu mencium bau parfum yang khas, ingat ‘si dia’ yang juga memiliki harum yang sama. Lalu kemudian mulai membandingkan, kenapa suami/istri kita tidak wangi seperti ‘si dia’.
Sejenak mungkin tubuh kita hadir bersama suami/istri, namun pikiran melayang membayangkan kisah-kisah indah bersama ‘si dia’. Hal itu disebabkan oleh pemberian hati yang tidak utuh lantaran telah banyak lubang yang dihasilkan tusukkan-tusukkan cinta yang ‘semu’ dari masa lalu. Menyedihkan, bukan?
Bayangkan, ketika kita melihat kertas polos dengan satu nama di tengahnya, mata kita akan menangkap satu sentralisasi konsentrasi yang utuh. Namun tidak demikian apabila terdapat banyak nama dan tulisan di kertas tersebut. Mata kita akan mendapati banyak nama dan konsentrasi kita menjadi tidak fokus. Meski pun nama yang dituju telah diberi tanda khusus, lingkaran misalnya, namun tetap saja kertas itu tidak bersih dan indah. Tulisan-tulisan selain yang dilingkari kerap kali mengganggu.
Hal serupa terjadi pada hati kita. Hati yang belum pernah terjamah permainan cinta akan fokus terhadap satu nama pertama dan terakhir. Di mana nama tersebut tertulis sebagai pendamping hidup kita: ‘fulan bin fulan’ atau ‘fulanah binti fulan’.
Allah SWT memberi jodoh sesuai dengan cerminan diri kita.[2] Maka coba tanyakan pada nurani, apakah kita tega hanya memberi hati yang ‘sisa’ kepada suami/istri kita? Sementara tanyakan pada logika, apakah kita siap hanya mendapat hati yang ‘sisa’ dari suami/istri kita?

Rumah yang Kokoh
Sungguh indah segala keteraturan. Layaknya lalu lintas, indahnya keselamatan akan tercipta apabila para pengguna jalan mematuhi rambu-rambu yang ada secara teratur. Untuk membentuk rumah tangga yang indah pun perlu adanya sebuah keteraturan dalam membangunnya: keteraturan menjaga hati dan kesucian diri.
Sebelum berumah tangga, seorang Muslim haruslah menjaga kesuciannya.[3] Menjaga diri dari masuknya cinta selain untuk Allah SWT. Maka dari itu tidaklah dibenarkan untuk mengikuti langkah-langkah syetan dengan mengumbar cinta atau berpacaran sebelum menikah.[4] Dengan begitu hati akan tetap terjaga kesuciannya dari lubang-lubang cinta yang tidak semestinya.
Tatkala menikah, hati yang utuh dan suci akan merasa bahagia dengan cinta pertama dan terakhir. Cinta yang diberikan kepada suami/istri dalam balutan ridha Illahi. Cinta yang utuh, lantaran hati tak pernah terjamah cinta yang lain. Cinta yang suci, lantaran hati tak pernah terkotori cinta yang salah. Cinta seperti inilah dapat saling melindungi dan memberikan nuansa kemurnian cinta yang sesungguhnya dalam rumah tangga.[5]
Serupa rumah yang kokoh, akan memberi perlindungan apabila komponen dasarnya juga utuh dan kokoh.
Kini tengoklah ke dalam hati, sudah sejauh mana hati terbagi?


Catatan Kaki:
[1] Paling kuat tali hubungan keimanan ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah. [HR. Ath-Thabrani]
[2] QS. An-Nuur (24): 26
[3] Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya. [HR. Bukhari]
[4] QS. An-Nuur (24): 21
[5] Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. [HR. Ad-Dailami]

tanpa judul 1

hari - hari kian berlalu tapi apakah setiap hari yang kulalui penuh dengan hikmah dan kebaikan??
#renungkan..

Jumat, 09 Maret 2012

narsis time!!!_6 (click image for zoom)

bergaya diatas rumput tanpa beralaskan sendal ataupun sepatu dengan suasana yang sangat sejuk di daerah puncak. gak perlu banyak komen untuk foto yang satu ini. karena saya masih bingung itu pose jongkok atau jinjit.. sungguh pose yang cukup jarang..
salam narsis... :p

narsis time!!!_5 (click image for zoom)





nge-gosip dulu sebelum LPTJ, yakinkan diri tegaskan hati...!!!
saya bocorin ni yah : ada di episode 5,singkatnya mereka ini lagi pada ngapalin lirik nasyid yang akan menggetarkan suasana haru sedih LPTJ yang seharusnya ada tangisan bahagia, malah menjadi suasana penuh kekonyolan dan canda tawa tak tertahan karena ditengah-tengah lagu para orang-orang ganteng ini pada lupa lirik nasyidnya...hehehe
salam narsis.... :p

narsis time!!!_4 (click image for zoom)

Bagi yang sudah membaca "catatan si allif - rmbu file" di blog saya mungkin akan penasaran sebetulnya seperti apa orang-orang ganteng didalam ceritanya..dan inilah penampakan dari mereka..
dari kanan ke kiri : kg dani, kg irfan, kg ade, kg hakim, kg ganteng, kg mahmud.
(ada sesuatu yang aneh yah??apa hayoo....hahaha)
untuk para akhwatnya maaf ya saya gak sebutin, pandangan saya terbatas..hehehe
salam narsis.... :p

narsis time!!!_3 (click image for zoom)

liatlah gaya mereka yang seakan-akan kaget melihat ufo jatuh dari langit menuju ke perairan sekitar ujung genteng. dan ketika para alien ditanya akan tujuan mereka datang ke bumi, mereka akan menjawab "kami dari planet IPA ingin melakukan PKL di ujung genteng". sungguh anak-anak yang aneh!*apalagi saya..hahaha
salam narsis.... :p

narsis time!!!_2 (click image for zoom)

inilah segerombolan orang yang membuat kerusuhan didalam "pusat primata schumutzer-ragunan", mungkin karena terlalu exicited nya mereka bertemu nenek moyang sehingga sampai membuat petugas keamanan bingung membedakan mana yang primata dan mana yang manusia.hahaha
salam narsis... :p

narsis time!!!_1 (click image for zoom)

bergaya didepan sebuah proyek perumahan samping rumah azul... excavatornya sungguh kasian.. mestinya dia sudah harus diservice, tapi nampaknya oleh sang pemilik dibiarkan saja hingga benar-benar rusak. giliran nanti sudah rusak baru deh pemiliknya kewalahan karena biayanya pasti ganti berbagai part. ingatlah pepatah : " mencegah lebih baik dari pada memperbaiki ".
salam narsis.... :p

Minggu, 04 Maret 2012

photoshoot_7 (click image for zoom)

Kalau jembatan yang ini SURA-MADU yang punya..
salam jepret!!! :)

photoshoot_6 (click image for zoom)

Jembatan nya kota palembang nih...
salam jepret!!! :)

photoshoot_5 (click image for zoom)

menanti fenomena sunset di pantai kuta, bali.
salam jepret!!! :)

photoshoot_4 (click image for zoom)

indahnya puncak cisarua, *pake kamera SLR temen ni
salam jepret!!! :)

photoshoot_3 (click image for zoom)

buat yang suka kuning... ^.^
salam jepret!!! :)

photoshoot_2 (click image for zoom)






sepasang badak yang sedang menikmati tidur siang,
salam jepret!!! :)

photoshoot_1 (click image for zoom)


ini bukan air terjun loh, cuma sungai yang kebetulan mirip dengan air terjun.
salam jepret !!! :)